masukkan script iklan disini
BOMBASTIS! Rokok Ilegal "Titan" Menggurita Bertahun-tahun di Dairi, Pelaku Tantang Media & Hukum: "Laporkan Saja!"
DAIRI – Skandal besar peredaran rokok ilegal kembali terkuak di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Bisnis gelap ini bukan hanya berjalan sesaat, melainkan sudah mengakar kuat "bertahun-tahun" seolah memiliki tameng sakti yang tak bisa ditembus hukum. Yang lebih mengejutkan, pelaku justru bertingkah sangat angkuh dan menantang, diduga kuat karena memiliki "tangan dingin" di lingkungan aparat penegak hukum sendiri.
Kejadian menghebohkan ini terungkap pada Kamis, 9 April 2026, tepat pukul 00.40 WIB. Di saat seluruh kota terlelap, tim investigasi media justru memantau aktivitas mencurigakan. Sebuah mobil box jenis Canter terlihat menyelinap masuk menuju area Stadion Baru Panji Bako, Kecamatan Sitinjo.
Aksi pantauan ini dilakukan lantaran warga setempat sudah lama memendam amarah dan kekecewaan mendalam. Sebuah bangunan di lokasi tersebut diduga kuat diubah fungsi menjadi gudang raksasa penyimpanan rokok ilegal merek "Titan".
Yang membuat publik geram, gudang tersebut diketahui dikelola oleh seorang pria bernama Albert Berutu. Namun, yang menjadi sorotan tajam adalah dugaan kuat bahwa iparnya, berinisial Ganda Naibaho, merupakan oknum yang bertugas di institusi penegak hukum negara. Muncul pertanyaan besar di benak masyarakat: Apakah seragam negara ini yang dijadikan perisai agar bisnis haram ini tak pernah tersentuh?
Sesampainya di lokasi, tim wartawan menyaksikan sendiri proses bongkar muat yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi namun dilakukan dengan sangat lepas dan tanpa rasa takut. Tumpukan kardus-kardus besar yang diduga berisi rokok ilegal itu diturunkan dengan santai.
Dengan berani, tim wartawan langsung mendatangi lokasi dan menodongkan pertanyaan kepada sopir mobil box yang sedang bekerja.
"Ini barang apa bang? Sudah jam setengah satu malam, kenapa masih sibuk bongkar muat di jam yang tidak wajar seperti ini?" tanya wartawan dengan tegas.
Alih-alih gugup atau berusaha menutupi, sopir tersebut justru menjawab dengan wajah datar seolah sedang menjalankan usaha yang paling halal di dunia.
"Ini rokok bang. Kalau yang ini merek Titan bang. Kalau ada apa-apa atau mau tanya lebih lanjut, abang koordinasi saja langsung sama Albert Berutu. Dia pemilik gudang dan penerima barang ini," jawab sopir dengan yakin, seolah nama tersebut adalah jaminan keamanan mutlak.
Tak butuh waktu lama, sosok yang disebut-sebut itu pun muncul menghampiri. Albert Berutu berhadapan langsung dengan awak media. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, ia justru tampil sangat percaya diri.
"Izin bang, kami dari media. Boleh tahu berapa jumlah kardus yang baru dibongkar ini dan sudah berapa lama aktivitas ini berjalan?" tanya wartawan mencoba menggali informasi.
Dengan nada datar namun penuh penekanan, Albert mengakui segalanya.
"Ini sudah berjalan tahunan bang. Sudah lama. Kalau untuk barang yang baru dibongkar malam ini, jumlahnya sekitar 90 tin/kardus," ungkapnya dengan santai.
Puncak keterkejutan dan bukti nyata betapa "kuatnya" mereka terjadi ketika wartawan menyinggung soal legalitas dan pelaporan. Alih-alih meminta maaf atau berusaha menutup mulut media, Albert justru melemparkan tantangan yang sangat menohok dan seolah menertawakan sistem hukum yang berlaku.
"Kalau kalian mau beritakan, silakan saja. Kalau kalian mau melaporkan ke pihak berwenang, silakan saja. Lakukan saja apa yang mau kalian lakukan," ujarnya dengan nada menantang, seolah berkata bahwa bahkan laporan pun tidak akan pernah mempan.
Pernyataan ini sontak menambah daftar panjang dugaan bahwa ada "mafia hukum" yang bermain. Bagaimana mungkin seorang pengusaha barang ilegal bisa berbicara seberani itu jika tidak ada perlindungan kuat di belakangnya?
Fakta pahit ini kini menjadi tamparan keras bagi instansi terkait, khususnya Bea Cukai dan kepolisian, serta Pemerintah Kabupaten Dairi di bawah kepemimpinan Bupati Dairi. Masyarakat menuntut tindakan nyata.
Rakyat kini menunggu: Apakah hukum di Dairi benar-benar buta? Atau hukum hanya tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, terutama bagi mereka yang memiliki koneksi dan kuasa? Tantangan sudah dilontarkan, kini saatnya negara membuktikan diri.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar