• Jelajahi

    Copyright © MITRA POLRI
    Best Viral Premium Blogger Templates

    GNI

    Iklan


     

    Akankah Indonesia Menjadi “Meksiko-nya Asia”? Pengamat Soroti Penanganan Kasus Narkoba

    garda network International
    Jumat, 27 Februari 2026, Februari 27, 2026 WIB Last Updated 2026-02-28T00:06:22Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    Akankah Indonesia Menjadi “Meksiko-nya Asia”? Pengamat Soroti Penanganan Kasus Narkoba







    Medan, 28 Februari 2026 – Muncul kekhawatiran di tengah masyarakat terkait maraknya kasus narkotika yang dinilai belum menyentuh aktor intelektual atau mafia besar di balik peredaran gelap narkoba. Pengamat sosial Kota Medan, Rules Gaja, S.Kom, mempertanyakan keseriusan pemberantasan jaringan narkoba kelas kakap di Indonesia.



    “Apakah Indonesia akan menjadi ‘Meksiko-nya Asia’? Apakah kita akan menjadi pabrik sekaligus basis bos kartel narkoba terbesar di kawasan, jika penegakan hukum hanya berhenti pada penangkapan barang bukti dan bandar kelas teri?” ujar Rules Gaja dalam pernyataannya, Jumat (27/2/2026).



    Ia menyoroti pola penanganan kasus narkoba yang dinilai lebih banyak menampilkan penangkapan tersangka lapangan serta pemusnahan barang bukti secara seremonial, tanpa transparansi yang memadai.



    Menurutnya, publik sering kali hanya diperlihatkan tumpukan barang bukti yang kemudian dimusnahkan dalam konferensi pers. Namun, masyarakat dan jurnalis tidak memiliki akses untuk memastikan keaslian barang tersebut maupun konsistensi jumlah antara yang disita dan yang dimusnahkan.



    “Barang bukti dipaparkan ke publik, lalu dimusnahkan. Tapi apakah benar itu barang asli? Apakah jumlahnya sesuai dengan yang diumumkan? Mengapa sering muncul isu sebagian barang hilang atau ‘menguap’?” katanya.




    Rules juga mengingatkan bahaya jika ada oknum penegak hukum yang justru menjadi beking peredaran narkoba. Menurutnya, bila praktik semacam itu benar terjadi dan tidak ditindak tegas, maka ancaman infiltrasi kartel internasional ke Indonesia bukan lagi sekadar wacana.




    Belajar dari Meksiko: Bayang-Bayang Kartel Global



    Kekhawatiran tersebut merujuk pada pengalaman pahit Meksiko dalam menghadapi kartel narkoba berskala global, seperti Nemesio Oseguera Cervantes, yang dikenal dengan alias El Mencho.



    El Mencho merupakan pendiri sekaligus pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG), salah satu kartel paling berbahaya di dunia. Pemerintah Amerika Serikat bahkan menetapkan hadiah 15 juta dolar AS bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi yang mengarah pada penangkapannya.



    CJNG dituding sebagai aktor utama banjir fentanil ilegal ke Amerika Serikat dan memiliki jaringan distribusi di lebih dari 40 negara. Pada Februari 2025, pemerintah AS secara resmi menetapkan CJNG sebagai organisasi teroris asing, menandai eskalasi serius dalam perang melawan narkotika global.




    Dari Polisi ke Raja Kartel



    El Mencho lahir pada Juli 1966 di Michoacán, Meksiko. Jejak kriminalnya bermula saat ia berada di Amerika Serikat dan dihukum penjara pada 1994 di California atas konspirasi distribusi heroin.



    Sekembalinya ke Meksiko, ia sempat menjadi anggota kepolisian di Jalisco. Namun kemudian kembali ke dunia kriminal dan membangun jaringan yang kelak menjelma menjadi kekuatan kartel besar. Kebangkitannya semakin pesat setelah penangkapan Joaquín Guzmán, bos Kartel Sinaloa.



    CJNG sendiri lahir sebagai pecahan Kartel Milenio pada awal 2010-an. Dengan dukungan jaringan finansial dan logistik dari kelompok Los Cuinis, CJNG berkembang menjadi organisasi dengan struktur terdesentralisasi yang kuat—menyerupai sistem “waralaba” kriminal.




    Kekerasan Terbuka dan Tantangan Negara



    CJNG dikenal brutal. Pada 2015, kelompok ini menembak jatuh helikopter militer Meksiko dalam sebuah operasi keamanan di Jalisco. Meski diburu aparat Meksiko dan lembaga seperti Drug Enforcement Administration (DEA), El Mencho selama bertahun-tahun tetap sulit disentuh.



    Para analis menyebut, sekalipun seorang gembong ditangkap atau tewas, jaringan kartel yang telah terdesentralisasi tetap dapat bertahan dan beregenerasi. Inilah yang membuat perang melawan narkotika menjadi konflik jangka panjang, kompleks, dan penuh tantangan struktural.




    Indonesia di Persimpangan Jalan



    Rules Gaja menilai, Indonesia saat ini berada di persimpangan penting. Dengan posisi geografis strategis, jumlah penduduk besar, dan jalur perdagangan internasional yang padat, Indonesia berpotensi menjadi pasar sekaligus transit narkoba internasional jika pengawasan dan integritas aparat tidak diperkuat.



    Ia mendesak agar:

    1. Transparansi pemusnahan barang bukti diperketat dengan pengawasan independen.

    2. Penindakan tidak berhenti pada kurir dan bandar kecil, tetapi menyasar jaringan keuangan dan aktor intelektual.

    3. Pengawasan internal terhadap aparat penegak hukum diperkuat untuk mencegah praktik beking dan korupsi.

    4. Pemerintah memperluas pendekatan pencegahan melalui edukasi dan rehabilitasi.



    “Jangan sampai kita baru sadar ketika jaringan kartel sudah mengakar kuat dan negara kewalahan. Meksiko adalah pelajaran nyata bahwa ketika mafia narkoba tumbuh lebih cepat daripada kapasitas negara, dampaknya bisa sistemik dan berkepanjangan,” pungkasnya.



    Kekhawatiran ini menjadi alarm bagi semua pihak bahwa perang melawan narkoba bukan hanya soal jumlah tangkapan atau barang yang dimusnahkan, melainkan soal membongkar ekosistem kejahatan secara menyeluruh—dari hulu hingga hilir.( Tim)

    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Terkini

    NamaLabel

    +